site

desc

Uncategorized

Mengetahui Makanan Raja di Zaman Majapahit yang Mengejutkan, Ternyata Masih ada hingga Sekarang

Mengetahui makanan para raja di zaman Majapahit tentunya menjadi salah satu hal menarik yang bisa menambah wawasan. Karena, tak hanya menarik, makanan para raja ini juga memiliki filosofi yang dalam di baliknya. Ternyata, makanan para raja Majapahit ini juga masih banyak ditemukan di beraneka daerah di Indonesia, terpenting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Cuma saja, sekarang tak banyak orang yang mengetahui makna dari hidangan yang tersaji di meja mereka, yang sesungguhnya sarat akan nilai budaya dan budaya leluhur yang banyak mengajarkan kebaikan.

Penasaran berharap tahu makanan para raja zaman Majapahit? Berikut ulasannya dirangkum pada Kamis (29/12/2022).

Tumpeng Tentunya, masyarakat telah benar-benar akrab dengan mahjong slot nasi berwarna kuning berbentuk kerucut ini. Pada bagian atas nasi tumpeng kerap kali ditutup dengan daun pisang. Tumpeng yakni salah satu makanan raja pun menjadi kesukaannya. Dalam prasasti Majapahit, para raja menyenangi menyantap makanan yang berbeda dalam satu wadah. Hal ini diasumsikan sebagai tumpeng.

Tumpeng atau ‘tumapaking panguripan – tumindak lempeng tumuju Pangeran’ yang berarti berkiblatlah kepada pemikiran, manusia itu mesti hidup menuju jalan Maha. Masyarakat tradisional Jawa memiliki kepercayaan, ada tenaga gaib di luar diri manusia yang bisa memengaruhi kehidupan mereka, sehingga perlu untuk memelihara hubungan dengan tenaga hal yang demikian supaya terjadi keseimbangan dengan kehidupan mereka. Lawar

Pendudukan kerajaan Majapahit di Bali, juga tak luput memengaruhi makanan tradisional yang ada di wilayah hal yang demikian. Lawar yakni salah satu makanan yang diduga telah ada semenjak zaman Majapahit. Lawar, terdiri dari beraneka sayuran dan daging cincang yang dibumbui secara merata. Bahan utama daging yang dipakai pada lawar ini berupa daging babi, atau kura-kura, sebab sedikitnya populasi dari kura-kura dan termasuk dalam binatang yang dilindungi, karenanya dalam pembuatan lawar telah tak memakai daging kura-kura. Sekarang, lawar kerap kali disajikan dengan campuran daging babi atau ayam. Lawar juga memiliki beraneka ragam, yang dihidangkan sesuai dengan acara yang digelar. Salah satu ragam lawar yang paling familiar yakni lawar darah yang memakai darah babi sebagai campurannya. Lawar memiliki simbol sebagai keharmonisan dan keseimbangan. Darah yang berwarna merah ini melambangkan Dewa Brahmana, kelapa berwarna putih melambangkan Dewa Iswara, terasi yang berwarna hitam melambangkan Dewa Wisnu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *